hidup ini penuh rintangan , hadapilah dengan sabar dan do'a, dan jangan kau lari dari coba'an hdup,.
Senin, 03 Maret 2014
Doa Nabi Nabi Dalam Al-Quran
Doa Nabi Adam AS
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “
Ya Tuhan Kami, Kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Surah Al A’raaf :23)
Doa Nabi Nuh AS
رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ “
Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, nescaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Surah Hud :47)
Doa Nabi Hud AS
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ”
Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Surah Hud :56)
Doa nabi Ibrahim AS
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orng yang tetap mendirikan sholat. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku. Wahai tuhan Kami, berilah keampunan kepadaku dan dua ibu bapaku dan sekalian orang orang mukmin pada hari berlangsungnya hisab(nanti).” (Surah Ibrahim :40-41)
Doa Nabi Yusuf AS
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ”
Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau telah mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan (pemerintahan) dan mengajarku sebahagian dari ilmu tafsiran mimpi. Wahai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi Engkau Penguasa dan Pelindungku di dunia dan di akhirat; sempurnakanlah ajalku (ketika mati) dalam keadaan Islam, dan hubungkanlah daku dengan orang-orang yang soleh.” ( Surah Yusuf : 101 )
Doa Nabi Ayub AS
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ “
Wahai Tuhanku,sesunguhnya aku telah di timpa penyakit dan Engkau Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Surah Al-Anbiyaa’:83)
Doa nabi Yunus AS
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ “
"Bahwasanya tiada Tuhan yang patut di sembah melainkan hanya Engkau,Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Surah Al-Anbiya’: 87)
Doa Nabi Musa AS
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Nabi Musa berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku, dadaku; “Dan mudahkanlah bagiku, tugasku; “Dan lepaskanlah simpulan dari lidahku, “Supaya mereka faham perkataanku; ( Surah Taha : 25 -27 )
Doa nabi Sulaiman AS
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ “
Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau redhai dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.” ( Surah,An-Namlu : 19 )
Doa Nabi Zakaria AS
رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
Dia merayu dengan berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya telah lemahlah tulang -tulangku, dan telah putih melepaklah uban kepalaku; dan aku – wahai Tuhanku – tidak pernah merasa hampa dengan doa permohonanku kepadaMu. Dan sesungguhnya aku merasa bimbang akan kecuaian kaum kerabatku menyempurnakan tugas-tugas ugama sepeninggalanku; dan isteriku pula adalah seorang yang mandul; oleh itu, kurniakanlah daku dari sisiMu seorang anak lelaki. Yang layak mewarisi daku, juga mewarisi keluarga Nabi Yaakub; dan jadikanlah dia – wahai Tuhanku seorang yang diredhai serta disukai”. ( Surah Maryam : 4-6 )
Doa Nabi Isa AS
اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Nabi Isa ibni Maryam (pun berdoalah ke hadrat Allah dengan) berkata: Ya Allah, Tuhan kami! Turunkanlah kiranya kepada kami satu hidangan dari langit, untuk menjadi hari raya bagi kami, iaitu bagi kami yang ada hari ini dan bagi orang-orang kami yang datang kemudian, dan sebagai satu tanda (mukjizat) daripadamu (yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaanMu); dan kurniakanlah rezeki kepada kami, kerana Engkau jualah sebaik-baik Pemberi rezeki”. ( Surah al-Maidah : 114 )
Doa Nabi Muhammad s.a.w
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir.” ( Surah al-Baqarah : 286 )
Read more: http://www.ahmad-sanusi-husain.com/2014/01/doa-nabi-nabi-dalam-al-quran.html#ixzz2uuxZ4j3W
Sabtu, 01 Maret 2014
JANGAN TERJADI WANITA YANG KITA CINTAI DILAKNAT PARA MALAIKAT.
JANGAN TERJADI WANITA YANG KITA CINTAI DILAKNAT PARA MALAIKAT.
Dikit2 ngambek... Pindah ke kamar anak
Dikit2 ngambek.. Kepakin baju ke rumah ortu
giliran di bujuk malah melunjak..
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan melaknatinya sampai pagi. (Shahih Muslim No.2594)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri tidak mendatangi suaminya, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai pagi hari.” (HR. al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 3526)
2 hadits di atas adalah peringatan buat istri sekaligus buat suami.. Kenapa dengan suami?? Nah Seorang suami yg mencintai istrinya kudu gimana agar kejadian di atas tdk terjadi.. Pintar2lah mencintai istri, jgn sampai mereka yang kita cintai di laknat Malaikat sampai pagi.. Paham maksudnya??
Wassalam
_________________
Insya Allah bisa bermanfa'at
AKU TAK BERPIKIR KAU MENYUKAIKU ATAU TIDAK.
AKU TAK BERPIKIR KAU AKAN MENCINTAIKU ATAU TIDAK.
DAN AKU JUGA TIDAK BERPIKIR KAU AKAN MENYAYANGIKU ATAU TIDAK.
akau hanya berpikir...
Apakah aku bsa menjadi seorang perantara yang mampu mendekakanmu pada-Nya..?
Ya ALLAH.. Lindungi hati ini..dari cinta nafsu.
Ya ALLAH.. Lindungi hati ini dari cinta semu.
Ya ALLAH.. Lindungi ati ini dari maksiat kepada-Mu.
Ya ALLAH.. aku tahu cinta -Mu begitu besar kapadaku, aku takut Engkau cemburu, ketika ada ''SESUATU'' yang membuatku berpaling dari cinta-MU.
Aamiin
BERKAT SHALAWAT WAJAH HITAM MENJADI PUTIH BERCAHAYA
"BERKAT SHALAWAT WAJAH HITAM MENJADI PUTIH BERCAHAYA" ...
Diceritakan bahwasanya Ulama besar Sufyan Ats-Tsauri sedang mengerjakan Thawaf mengelilingi Ka'bah dan melihat seseorang yang setiap kali mengangkat kaki dan
menurunkannya senantiasa membaca shalawat atas nabi.
Sufyan Ats-Tsauri bertanya : "Sesungguhnya engkau telah minggalkan bacaan Tasbih (subhanallah) dan Tahlil (la ilaha illallah), sedang engkau hanya melakukan Shalawat atas Nabi. Apakah ada alasan yang khusus bagimu untuk mengamalkannya?"
Lalu orang itu menjawab : "Siapakah engkau? Semoga Allah SWT mengampunimu."
Sufyan Ats-Tsauri menjawab : "Saya adalah Sufyan Ats-Tsauri."
Orang itu berkata : "Seandainya kamu bukanlah orang yang istimewa di zamanmu ini niscaya saya tidak akan memberitahukan masalah ini dan menunjukkan rahasiaku ini."
Kemudian orang itu berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri :
"sewaktu saya mengerjakan Haji bersama ayahku. Dan ketika berada di dekat kepalanya ayahku meninggal dan wajahnya tampak hitam kelam. Lalu saya mengucapkan "Innalillah wainna ilaihi raji'un" dan saya menutup wajah ayahku dengan kain. Kemudian saya tertidur dan bermimpi dimana saya melihat ada orang yang sangat tampan, sangat bersih dan mengusap wajah ayahku, lalu wajah ayahku itu langsung berubah menjadi putih. Saat orang yang tampan itu akan pergi, lantas saya pegang pakaiannya sambil bertanya :
"Wahai hamba Allah siapakah engkau? Bagaimana bisa karena Anda, Allah menjadikan wajah ayahku itu langsung berubah menjadi putih di tempat yang istimewa ini?"
Orang itu menjawab : "Apakah kamu tidak mengenal aku? Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang membawa Al-Qur'an. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang
melampaui batas (banyak berbuat dosa). Akan tetapi ia banyak membaca shalawat atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta pertolongan kepadaku maka akupun memberi pertolongan kepadanya. Karena aku suka memberi pertolongan kepada orang yang banyak memperbanyak shalawat atasku."
Setelah itu saya terbangun dari tidur dan saya lihat wajah ayahku berubah menjadi putih." (Lihat Kitab : Tanbihun Ghofilin, As-Samarqhondi,Hal. 261)
SubhanAllah.
Allahumma shalli wasallim 'ala sayyidina Muhammad. Wa'ala alihi washahbihi ajma'in.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bershalawat atas Nabi kita Muhammad SAW sehingga kelak akan mendapat syafaat dari Nabi. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
=================
Insya Allah bisa bermanfa'at
AKAN KUCARI NAMAMU DALAM SAJADAH SEPERTIGA MALAMKU
AKAN KUCARI NAMAMU DALAM SAJADAH SEPERTIGA MALAMKU
Cinta dalam diamku,
Haruskah kau tahu jika aku mencintaimu..
KURASA TIDAK..
Kerana cinta itu tak bisa terungkap agar bisa terlihat..
Ianya hanya bisa dirasa dalam hati.
Bukan aku tak berani mengurai..
Tapi aku takut salah dalam menempatkannya.
Kerana apa yang menurutku baik,
Belum tentu baik menurut_Nya..
Aku ingin yang terbaik untuk Robbku..
Sebenarnya..
Acuhku bukan berarti mengabaikanmu..
Diamku bukan berarti tak mengingatmu..
Kerana aku pun insan biasa.
Ada perasaan....
Ada keinginan
Ada harapan..
Namun aku merasa diri belum pantas untuk itu..
Biar rasa ini tercipta,,
Kusimpan disudut hati,,
Hanya ALLAH saja yang tahu.
Kuterbangkan sayap angan keangkasa.
Agar nafsu tak menyeretku inginkan cinta.
Akan kucari namamu disepertiga malamku..
Aku harap kaulah yang tertulis di Lauhul Mahfudz untukku..
Jikapun bukan..
Tak mengapa aku percaya takdir_Nya adalah yang Terbaik..Aamiin..
Sumber : IndoHijabers
Rabu, 12 Februari 2014
Hukum Sholat Qodho
Dari bermacam-macam sholat, kita pasti tidak asing dengan yang namanya sholat qodho, sebagai mukaddimah, ini saya nukilkan pembahasan sholat qodho dari aljawad.tripod.com
Shalat qodho hukumnya wajib sebagaimana wajibnya melakukan sholat ada’. Shalat qodho ialah : Melakukan shalat di luar waktu yang telah ditentukan, untuk menggantikan shalat wajib harian yang tertinggal. Shalat ada’ ialah : Melakukan shalat wajib harian tepat menurut waktu yang telah ditentukan.
Pengertian qodho hanya berlaku bagi shalat-shalat harian (5 waktu). Sedang untuk shalat wajib lainnya, seperti shalat Jum’at, Ied (hari raya, baik ghodir, fitri dan adhha), Ayat dan sebagainya, tidak ada kewajiban untuk meng-qodhonya saat tertinggalkan, kecuali untuk gerhana matahari dan gerhana bulan yang total, walaupun diharuskan untuk melakukannya di luar waktu (qodho gerhana yang total), saat melakukannya tidak diharuskan dengan niat qodho, cukup dengan niat melakukan shalat.
Kewajiban qodho ini dibebankan pada setiap orang, baik dengan sengaja dia meninggalkan shalat atau tidak, dia mengerti hukum keharusannya atau tidak, dalam keadaan tidur atau terbangun, bepergian atau di rumah, dan lain sebagainya. Sebagaimana bunyi dalil berikut :
Imam Bagir a.s. ditanya tentang seseorang melakukan shalat dalam keadaan hadas (belum bersuci), atau shalat yang terlewatkan olehnya karena lupa atau tertidur dan belum ia lakukan ? Dijawab oleh beliau : “Wajib baginya untuk mengqodho shalat yang tertinggal kapan saja ia mengingatnya, baik malam maupun siang. Tetapi apabila (timbulnya ingatan) masuk pada waktu shalat berikutnya, dan belum menyelesaikan (melakukan) shalat yang tertinggalkan olehnya, maka lakukan shalat qodho asalkan tidak takut akan habisnya pemilik waktu, karena pemilik waktu lebih berhak untuk dilaksanakan terlebih dahulu daripada shalat qodho. Seusai melakukan (shalat) pemilik waktu, lakukanlah shalat yang tertinggal, dilarang melakukan shalat nafilah walaupun satu rakaat, sebelum tanggungan kewajibannya diselesaikan secara keseluruhan. [Al-Wasail, juz 4, hal. 248.]
Kewajiban qodho ditetapkan dan dipikulkan pada pundak mereka yang memiliki kewajiban ada’, dan kewajiban qodho jatuh dengan jatuhnya kewajiban ada’. Kurang warasnya akal, anak-anak (mereka yang belum menanggung kewajiban), kekufuran, hilangnya kesadaran diri yang tidak disengaja dan lain sebagainya, atau karena keluarnya darah haid, nifas (sehabis melahirkan), pada semua keadaan tersebut tidak wajib qodho (karena kewajiban ada’ terangkat dari mereka), sampai kewajiban ada’ terpikulkan kembali ke pundak mereka (dengan pulihnya keadaan).
Tiga perkara yang menyebabkan hilangnya kewajiban qodho :
1. Melaksanakan kewajiban tepat pada waktunya.
2. Meninggalnya seseorang sebelum masuknya waktu sholat.
3. Kekufuran, kecuali bagi yang murtad kemudian bertaubat kembali.
Ada dua kesimpulan setelah melakukan shalat qodho : *)
Pertama, bagi mereka yang shalatnya (atau kewajiban-kewajiban lain) tertinggal karena lupa (atau karena alasan-alasan lain yang menafikan kewajiban ada’) tidak dianggap berdosa setelah mereka mengqodho’ kewajiban-kewajiban tadi, karena saat mereka lupa kewajiban ditangguhkan sampai mereka ingat atau dengan hilangnya alasan-alasan tadi.
Kedua, bagi mereka yang meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut secara sengaja, tetap mendapat dosa walaupun mereka telah ganti dengan mengqodhonya, karena mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka.
*) Harus tertib saat mengqodho shalat yang tertinggal secara berurutan dan tidak terlewatkan sampai hari berikutnya. Contohnya : Jika yang tertinggal adalah shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, kemudian ingat setelah masuknya waktu Isya, atau yang tertinggal hanya shalat Dhuhur dan Ashar, dan ingatnya setelah masuk waktu Maghrib, atau yang tertinggal adalah shalat yang jenisnya sama (tiga kali shalat Subuh saja misalnya) di hari yang berbeda-beda, maka shalat Subuh walaupun qodho lebih didahulukan dari pada shalat Dhuhur yang ada’, karena keberadaan shalat Subuh lebih dahulu dari pada shalat Dhuhur, walaupun harinya telah lewat
Marilah kita diskusikan masalah sholat qodho ini ! karena ini sangat penting, jangan sampai kita beramal tanpa didasari ilmu yang benar.
Mujahadah: The Struggle of Life
Tingkatan (Maqam) yang ke-5 dalam konsep tasawuf adalah Mujahadah yaitu bersungguh-sungguh. Secara istilah mujahadah dapat diartikan sebagai satu bentuk kesungguhan untuk menjalankan perintah Allah dengan memenuhi segala kewajiban dan menjauhi atas larangan-Nya; secara lahir dan bathin dengan wujud nyata berupaya melawan (menundukkan) hawa nafsu.[1] Dalam sebuah hadisnya, Rasul SAW bersabda:
مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِيْ طَاعَةِ اللهِ
“Seorang Mujahid (orang yang berjihad) ialah dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah SWT”[2]. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwasanya di antara tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah yaitu dia mengutamakan perkara yang di sukai-Nya daripada mengutamakan kehendak nafsu pribadinya. Sejalan dengan ungkapan indah Abdullah Ibnu Mubarak:”Jika cintamu benar, kamu akan menaati-Nya, karena seseorang yang mencintai sesuatu sanggup menaati sesuatu”. Orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, inilah kekuatan yang ada dalam diri umat Islam. Kepercayaan ini menjadikan mereka sebagai golongan yang sanggup untuk menghindari kenikmatan sesaat demi mendapatkan kebahagian jangka panjang yang kekal nan abadi yaitu kebahagian akhirat. Denis Waitley dalam Empires of The Mind berkata: “Saya berpendapat, salah satu faktor utama yang menyebabkan Amerika bermasalah pada hari ini adalah, karena rakyatnya begitu asyik dan gairah dengan kesenangan jangka pendek dan melupakan jangka panjang”.
Isyarah ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami, Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Berkaitan dengan ayat diatas, Imam Ad-Darani berkata:”Mereka yang bermujahadah berdasarkan ilmu yang diketahui, maka akan di tunjukkan oleh Allah tentang perkara yang belum diketahui”. Fudhail al-Iyadh mengatakan: “Orang-orang yang bermujahadah untuk mencari ilmu, Allah akan tunjukkan kepadanya jalan untuk beramal”. Junaid al-Baghdadi berkata: “Mereka yang bermujahadah dengan bertaubat, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keikhlasan”, dan sahabat rasul SAW Abdullah Ibnu Abbas RA pernah mengatakan:”Orang-orang yang bermujahadah untuk melakukan ketaatan, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan pahala dan keagungan rahmat-Nya”.
Para ulama tasawuf sangat menekankan arti pentingnya mujahadah untuk mencapai martabat tertinggi dalam rangka menggapai derajat mulia di sisi-Nya, salah satunya dengan mujahadah (kesungguhan). Tanpa mujahadah seseorang tidak akan pernah tercapai apapun yang ia lalui dalam kehidupannya. Mujahadah di lakukan semata-mata untuk taqarrub (mendekatkan) dirinya kepada Allah SWT, bukan untuk mencapai kasyaf,karamah atau untuk mencapai berbagai maqamat (tingkatan) demi kepentingan individu ataupun yang bersifat duniawi, melainkan semata-mata hanya untuk mengharap ridha Allah SWT, sehingga dapat tercapai hakikat tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyah yang sebenarnya. Oleh sebab itu, dalam amalan tasawuf sering dilahirkan berbagai ungkapan, baik dalam bentuk doa ataupun munajat, seperti:
ِإلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ , أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَ مَعْرِفَتَكَ
“Ya Allah, Wahai Tuhanku! Engkau adalah yang kutuju, dan hanya keredhaan-Mu lah yang sentiasa kucari, anugerahkanlah padaku rasa untuk selalu mencintai-Mu dan selalu mengingat dalam setiap denyut nadiku”.
Imam al-Ghazali mengatakan, dalam setiap maqam (Tingkatan) terdiri dari tiga perkara untuk bisa dikatakan mencapai kesempurnaan, yaitu: ilmu, amal dan hal (nur). Ilmu dicapai melalui pembelajaran dan pengkajian, setelah diperoleh wajib untuk di amalkan, kemudian pengamalan yang jujur, sungguh-sungguh serta istiqomah akan membuahkanhal (nur=cahaya) bagi dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Inilah makna yang tersirat dalam pemahaman ayat diatas.
Manusia mempunyai lima unsur terpenting dalam dirinya, yaitu:
1. Ruh
2. Qalbu (Hati)
3. Hawa Nafsu (Syahwat)
4. Jasad
5. Anggota Badan
Peranan kelima unsur tersebut diatas, bisa kita umpamakan sebuah kerajaan dimana Ruhsebagai Sultan, Qalbu adalah Singgasananya, Hawa Nafsu musuh dalam selimut (musuh dalaman), Jasad kita artikan sebagai wilayah kekuasaan dan anggota badan adalahrakyatnya.
Di antara kelima unsur ini selalu wujud persaingan antara Ruh=Sultan, yang ingin memerintah dengan adil dan bijaksana, dan Nafsu=musuh yang datang umpama “duri dalam daging” yang berusaha untuk menzalimi rakyat, serta memiliki hasrat untuk menghancurkan wilayah kekuasaan dan pemerintahan sultan/jasad. Oleh karena itu, sultan di mohon untuk selalu waspada terhadap rancangan serta selalu memantau segala tindakan musuh yang akan menzalimi rakyat, ataupun bertindak anarkis untuk menghancurkan wilayah kekuasaan dan merebut tahta sang sultan.
Dari sini kita tahu bahwa semua aktivitas ruh terhadap hawa nafsu ini kemudian di namakan mujahadah, dengan kata lain ruh harus selalu bermujahadah ke atas hawa nafsu supaya nafsu tidak mengganggu atau dapat mempengaruhi anggota badan dengan perbuatan-perbuatan yang di larang oleh syari’at. Selain itu, karena supaya Qalbu tidak di usik dengan sifat-sifat tercela. Pada waktu yang sama, ruh akan berusaha meningkatkan kualitasnya sendiri agar ia selalu dihiasi dengan sifat-sifat yang mulia yang akan terpancar dan kembali memberikan pengaruh kepada Qalbu, Jasad dan anggota badan.
Imam Ibnu al-Qayyim dalam hal ini pernah berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan melakukan jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah-Nya adalah dia yang paling besar perilaku jihadnya. Jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu, keinginan buruk (syahwat), bujukan syaitan, dan melawan rayuan duniawi.
Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, maka Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah-Nya”. Sebagaimana dalam Al-Quran di sebutkan:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْ وَى
Artinya:
“ Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya Syurgalah tempat tinggal(nya)”.
Mujahadah diri (mujahadah al-nafs) adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan egoisme (nafsu pribadi). Mengapa jihad atau perang melawan hawa nafsu sendiri menjadi sesuatu yang penting? Seandainya kita telusuri dari sudut pandang normatifnya, jelas karena agama sangat menganjurkan perilaku atau amaliah dalamkehidupan ini. Maka wajar, sampai Rasul SAW menyebutnya perang melawan hawa nafsu merupakan jihad akbar, yang nilainya lebih utama dibanding jihad memerangi orang-orang kafir; yang sering disebut oleh beliau sebagai jihad kecil(al-jihad al-asghar).Sebagaimana dalam Kitab Riayah Akhir karangan Syeikh Ahmad Rifa’I dalam halaman terakhir dari Korasan 19 dikatakan:
قَالَ النَّبِيُّ : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأصْغَرِ إِلىَ جِهَادِ الأَكْبَرِ ,
قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قاَلَ اَلْجِهَادُ فِى النَّفْسِ
“Nabi SAW bersabda: Telah kembalilah kita dari sebuah perlawanan yang kecil (perang Badar dengan orang Kaum Kafir Quraisy waktu itu), menuju peperangan yang agung, bertanyalah para sahabat: Ya Rasulallah, apa yang engkau maksudkan peperangan yang besar, rasul menjawab: Perang melawan hawa nafsu”.
Jika kita telaah secara hakiki, hawa nafsu merupakan poros kejahatan (ma’wa kulli syarrin). Karena nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang seharusnya wajib ditunaikan, serta mengabaikan terhadap kewajiban-kewajibannya. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya, karena nafsu itu digemari, disenangi, dicintai, dan itu semua di sebabkan karena semua perbuatan yang mengarah kepada nafsu pasti menyenangkan. Maka sangat beruntung bagi sesiapa yang bisa mematahkan (mengalahkan) hawa nafsunya, dan tetap menjadikan akal fikiran bersihnya sebagai pemimpin dalam setiap aktivitas kehidupannya, sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ulama:
طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاءُهُ يَكُوْنُ أَسِيْرًا[3]
Artinya:
“ Beruntung sekali kepada siapapun yang bisa menjadikan akal fikirannya sebagai Sultan (mampu memerintah), sehingga hawa nafsunya bisa dikalahkan”.
Mujahadah (Kesungguhan) dapat kita awali dengan cara memusuhi nafsu diri kita, mengangkat tabuh genderang peperangan terhadapnya. Banyak jalan menuju mujahadah, termasuk salah satu contohnya adalah dengan cara merenungi akibat/effect dari kebaikan (natijah al-hasanat) dan akibat/effect kejahatan (natijah al-sayyiat). Allah SWT berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.”
Oleh sebagian ulama ayat ini ditafsirkan bahwa: “Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya dalam kalbu, kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rezeki, serta kecintaan dari segala makhluk. Adapun kejahatan; sebaliknya, menciptakan kegelapan dalam hati, kesakitan badan, kesuraman wajah, kesempitan rezeki, serta kebencian dari hati segala makhluk.”
Para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba(dadah), pembunuh, mereka adalah orang-orang yang gagal dalam melakukan mujahadah. Sebaliknya, mereka sentiasa asyik menuruti segala keinginan dan syahwatnya, sehingga tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang; cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat nan instan.
Kesan-Kesan Tasawuf
Realitas tertinggi dan amalan yang paling utama di sisi Allah SWT pada hari kiamat adalah orang-orang yang dalam hidupnya selalu memperbanyak zikir kepada-Nya, baik di saat dia berdiri, duduk, berbaring dan dalam berbagai posisi apapun, sejalan dengan Isyarah al-Quran surah Ali Imran ayat 190-191, Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَأَيتٍ لِأُولِى اْلألَبْاَبِ
اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَّفُعُوْدًا وَّعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.
Orang-orang yang masuk kategori dalam ayat di atas, mereka akan mendapatkan kesan dalam rangka mencapai satu jalan untuk menuju ridha-Nya. Oleh karena itu, ada beberapa manfaat yang bisa di rasakan sebagai upaya sebagai hamba Allah yang sesuai dalam konsep mujahadah[4], diantaranya:
- Memperteguh keimanan dan membina jati diri muslim
- Menimbulkan kesadaran jiwa
- Membina kepribadian dan akhlak mulia
- Membentuk hamba yang bertanggung jawab
- Mewujudkan persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan serta menebarkan sifat rahmat bagi sesama manusia.
Ibnu Dahlan el-Madary
PG.Bilal 3.34 UIAM, 15102010:1.00 am
Shollallahu ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi
[1] Syeikh Ahmad Rifai, Riayah Akhir, bab ilmu tasawuf, Korasan: 19, halaman 17 baris 9.
[2] Shahih Bukhari, bab Jihad, Juz 20 halaman 154, Hadis ini termasuk dalam peringkat hadis yang Hasan.
[3] Syeh Ahmad Rifai, opcit. Korasan 19 halaman 19 baris 7
[4] Dr. Abdul Manam Bin Mohammad al-Merbawi, Konsep Tasawuf menurut Ahli Sufi.
[1] Syeikh Ahmad Rifai, Riayah Akhir, bab ilmu tasawuf, Korasan: 19, halaman 17 baris 9.
[2] Shahih Bukhari, bab Jihad, Juz 20 halaman 154, Hadis ini termasuk dalam peringkat hadis yang Hasan.
[3] Syeh Ahmad Rifai, opcit. Korasan 19 halaman 19 baris 7
[4] Dr. Abdul Manam Bin Mohammad al-Merbawi, Konsep Tasawuf menurut Ahli Sufi.
Langganan:
Postingan (Atom)